Berburu di Balai Lelang
Cara aman (dan mudah) memilih lukisan bernilai investasi tinggi.
Boleh dikatakan seni modern adalah evergreen dan menjadi blue chip-nya seni lukis. Meski tak semua... more detail
Cita Rasa Ekslusif
Bentuk tak beraturan dari karya Noor Ibrahim menjadi nilai lebih yang memiliki makna tersendiri.
Suatu ketika yang indah di Italia. Pematung Marino Marini asyik membuat corat-coret sketsa, membuat rencana patung dengan pose figur yang sebisa mungkin belum dibuat orang. Setelah bergelimang perunggu dan tungku pemanas, jadilah patung The Angel of the city yang terkenal. Seseorang duduk sambil merentangkan tangannya di atas kuda.
Di sebuah hari di Spanyol, maestro seni Pablo Ruiz Picasso memendam kerinduan pada wanita yang dicintainya. Ia lalu membongkahkannya dalam wujud salah satu patung kubisme termahal di dunia, Tete de Femme alias Dora Maar.
Sementara itu di sebuah rumah di Yogyakarta, seseorang berbadan besar dan berambut gondrong awut-awutan merasa stres karena ditinggal anak-istrinya liburan di Magelang. Tepat jam 12 malam, ia marah-marah. Seperti kesetanan, patung-patung figur logam buatannya pun menjadi sasaran. Dihantaminya dengan palu berkali-kali bahkan ada yang dibuang ke jalanan, kesal dengan tetangga yang ngomel karena merasa terganggu.
Kemarahan itulah awal dari sebuah teknik patung yang kini digeluti Noor Ibrahim, pematung lulusan Institut Seni Indonesia 1994. Bentukan patung penyok-penyok itu menjadi gayanya setelah amarahnya di pagi hari terhenti oleh celotehan 3 anaknya yang masih kecil. “Seketika saya berhenti marah pada istriku yang baru pulang. Lalu saya perhatikan perkataan anak tertua saya kelas 4 SD yang menjelaskan kepada adiknya tentang gunung dan lembah yang ada pada patung saya yang penyok-penyok. Saya langsung berpikir, bukankah itu sebuah konstruksi yang amat solid? Maka bagian yang pecah pun saya tutup, saya sambung secara alami. Akhirnya inilah patung saya. Saya mendapat dua hal, pertama gaya ini bisa menjadi katarsis untuk saya dan juga menjadi konstruksi yang sangat kuat seperti evolusi alam, “ kata pematung kelahiran magelang 1966 ini.
Tentang tekniknya, pematung yang intens berkarya selama 25 tahun ini berkomentar,” ketika palu yang saya pegang saya hantamkan ke objek, seketika itu energi berhenti di sana dan itulah yang ingin saya sampaikan,” kata Noor yang mengangkat Palon menjadi tema pameran 42 patung logamnya yang diadakan di Galeri Nasional mulai 8-17 Februari.”Pada acara ini ia juga meluncurkan buku dengan judul sama dalam bahasa Inggris dan Mandarin,” kata Eddy Soetriyono, sang kurator.” Ada 9 penulis dan pengamat seni yang ikut memberi komentar atas karyanya dengan pembuka dari dr. Oei Hong djien.”
Saat memperhatikan patung-patung Noor Ibrahim, rasanya kita bisa menemukan kehidupan di sana. Kehidupan dari benda masif tak bernyawa yang seakan menuturkan cerita. Tentang penderitaan seseorang yang harus bersepeda menempuh banjir (hanya ditunjukkan dengan roda yang setengah tak tampak) sambil menggendong/memboncengkan 3 anaknya yang masih kecil-kecil (lihat patung Perjalanan). Tentang jagad raya yang harus terus dirawat dengan mengingatkan kita untuk menjaga alam, pepohonan, yang secara puitis hadir lewat karyanya Rembulan Tertusuk Pohon. Atau jangan-jangan Noor ingin mengatakan sesuatu dengan menggabungkan rembulan ini dalam satu wujud. Apa atau siapakah sang rembulan? Kenapa ia tertusuk pohon?
Akan banyak pertanyaan yang muncul setiap kali kita melihat patung-patung rumput, gunung, kaktus dan unsur alam dari pematung yang karyanya lebih personal ketimbang bersifat publik. Jika kita tak menemukan semua jawaban, satu hal yang bisa menjadi kunci : saat melihat patung Noor, perhatikanlah alam sekitar, rasakan apa yang ada di alam ini.
Di balik penyok-penyok bentuknya, patung-patung Noor lebih banyak masuk ke balai lelang ini memendam harmoni. Ada keseimbangan dalam setiap wujud patungnya. Antara yang besar dan yang kecil, yang halus dan yang kasar, yang bulat dan bersudut...serta keseimbangan komposisi dan konstruksi yang tentu tak sesederhana di mata kita.
Kita seperti dihadapkan pada sebuah karya dalam sebuah karya lain. Detail disengaja yang seperti tak disengaja juga menjadi kekuatan imaji patung
Noor Ibrahim yang pernah berpameran di Biennale Venezia ke-51 di San Marco Italia.
Menikmati karya patung Noor, kita dipaksa secara halus memaknai bentuk-bentuk sederhana tak beraturan yang hadir dari lempengan berbagai logam seperti tembaga dan kuningan. Bagaimana dia bisa mendapatkan wujud rumput liar yang tak seperti rumput? “itu saya ambil dari bayangannya. Di dunia nyata kan tidak mungkin ada yang menyatu antara rumput satu sama lain, pohon satu sama yang lain, manusia satu dengan yang lain. Nah coba kita lihat bayangannya. Mereka bisa. Ini satu spirit tersendiri terutama bagi orang Jawa,” kata Noor yang kini tinggal di Surabaya.
Noor yang memahami ‘ilmu Jawa’ ini agaknya sudah meleburkan makna ‘palon’, kata dalam bahasa Jawa yang artinya memukul berulang-ulang menggunakan alat dari palu besi (biasa dipakai para pandai besi di Jawa Timur atau seorang empu saat membuat keris atau tombak) dengan kata ‘palon’ yang membawa kita pada legenda nama Sabdo Palon – Noyo Genggong, dua abdi Prabu Brawijaya V. Masyarakat desa di pelosok di Jawa Timur percaya bahwa, dua sosok itu adalah perwujudan dari Semar dan Bagong yang sebenarnya adalah bayangannya. Dalam kisah pewayangan, Semar adalah dewa yang turun ke bumi menjadi penasihat dan sekaligus pembantu para ksatria Pandawa. Saat itu, Semar berjanji akan mengayomi raja-raja dan kaum ksatria penjaga tanah Jawa.
Mungkinkah ini yang coba dilakukan Noor Ibrahim melalui patung-patung palon-nya? Ia seakan menjelma menjadi ‘bayangan Semar’ dan mengingatkan kita dilahirkan, menjaga rumput, burung, laut, sungai, lembah, hutan dan gunung.
Bumi memang sudah semakin panas, karena pemanasan global. Apa jadinya bila hati manusia ikut memanas? Masihkah dari amarah lain bisa muncul palon yang lain lagi? Sulit rasanya, selain hanya menyisakan angkara murka yang makin merajalela.